Perusahaan Penyedia Kredit Sistem Syariah Terbaik


Klasik, Malang
Kredit saat ini menjadi solusi bagi seseorang atau perusahaan yang akan membeli suatu barang atau kebutuhan modal usaha. Dalam kredit terdapat fasilitas dimana dapat meminjam uang dan membayarnya kembali dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. Barang yang biasa dijadikan komoditas perkreditan antara lain kendaraan bermotor, rumah dan lainnya. 

Terdapat dua jenis sistem kredit yaitu kredit konvensionl dan kredit syariah. Sebenarnya keduanya sama saja dimana ada pihak yang membantu dalam hal memberikan pinjaman dana kepada konsumen. Syarat pengajuan pinjaman, sistem penerimaan dan cara pembayaran dananya pun sama. Namun perbedaan mulai terlihat jelas dalam hal legalitas dan akadnya. Lalu bagaimana perbedaan pembiayaan syariah dan konvensional? Berikut poin poin perbedaannya;
 
1. Akad
Jika Bank konvensional memakai hukum positif, maka sistem syariah dibuat berdasarkan hukum Islam. Jadi akan ada perbedaan mengenai riba. Setiap pinjaman atau kredit konvensional baik yang memakai agunan atau tidak akan dibebankan biaya bunga yang harus dibayarkan di setiap bulannya bersama nominal dana pinjaman dan inilah yang memberatkan konsumen karena harus membayar lebih dari jumlah cicilan setiap bulannya. Sedangkan kredit dengan sistem syariah tidak terdapat bunga sama sekali karena itu termasuk riba yang dilarang berdasar QS. Al baqoroh : 275 sampai 281.
 
2. Dewan pengawas dan legalitas
Berbeda dengan usaha kredit konvensional dalam setiap badan usaha syariah terdapat yang namanya Dewan Pengawas Syariah atau DPS. Biasanya anggotanya terdiri dari para ulama atau seorang pakar ahli ekonomi yang faham dan menguasai fiqih tentang muamalah. Tugasnya adalah untuk mengawasi keberlangsungan sistem dan juga segala jenis layanan yang diberikan.
 
3. Perbedaan resiko Pembiayan syariah dan konvensional
Apabila ada seorang konsumen meminjam modal dari kredit konvensional, apapun jenis usahanya baik mengalami keuntungan ataupun kerugian kewajiban konsumen tetap sama saja yaitu harus mengembalikan pinjaman pokok serta bunga yang sudah disepakati dalam akad. Namun untuk kredit syariah konsumen yang sudah merugi dalam usahanya hanya perlu membayar modal yang diberikan karena menggunakan sistem mudharabah atau bagi hasil, kerugian juga ditanggung oleh badan pemberi modal.
 
Selain poin poin di atas, jika ada yang meminjam modal dengan sistem pembiayaan syariah untuk keperluan usaha biasanya akan diminta secara detail mengenai informasi usahanya apakah produk atau jasa sudah sesuai atau dilarang dalam prinsip syariah.
 
Saat ini sudah banyak bermunculan perusahaan keuangan atau Bank yang melayani kredit yang sesuai dengan sistem syariah, berikut daftarnya;
 
1. Bank umum syariah seperti; Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri, Bank Mega Syariah, BRI Syariah, Bank Syariah Bukopin, BNI Syariah, BCA Syariah, dan masih banyak lagi.
 
2. Unit usaha syariah; Bank Danamon, Bank Sinarmas, Bank Permata, Bank CIMB, Bank OCBC Nisp, Bank International Indonesia, Bank Tabungan Negara serta Bank BPD yang tersebar di wilayah regional Indonesia.
 
3. Bank pembiayaan rakyat syariah yang tersebar di seluruh Indonesia seperti PT. BPRS Amanah Rabaniyyah di Kab. Bandung, PT. BPRS Al Barokah di Kota Depok, PT. BPRS Syariah Magetan dan masih banyak lagi.
 
Di atas tadi adalah segala tentang pembiayaan syariah baik dari segi keuntungan dan daftar badan usaha yang melayani perkreditan sesuai dengan prinsip syariah. Dengan melihat sisi kebermanfaatan dan keadilan dalam sistem kredit syariah sudah tentu jika keuangan dengan sistem ini harus segera dijadikan pilihan utama dalam segala macam kebutuhan keuangan Anda.
Previous
Next Post »